module:31facing:1; ?hw-remosaic: 0; ?touch: (-1.0, -1.0); ?modeInfo: ; ?sceneMode: Auto; ?cct_value: 0; ?AI_Scene: (-1, -1); ?aec_lux: 0.0; ?hist255: 0.0; ?hist252~255: 0.0; ?hist0~15: 0.0; ?module:31facing:1; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: Auto; cct_value: 0; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 0.0; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~15: 0.0;

SIDRAP — Semangat menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di berbagai penjuru Bumi Nene Mallomo, Kabupaten Sidenreng Rappang.

Beragam kegiatan Agustusan digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus momentum mempererat kebersamaan masyarakat.

Namun, di tengah kemeriahan perayaan kemerdekaan tersebut, muncul pula suara kritis dari seorang perempuan asal Sidrap, Eka Ambarwati, S.Pd., S.H.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya memaknai kemerdekaan melalui upacara, perlombaan, dan kemeriahan seremonial, tetapi juga melihat apakah semangat kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Menurut Eka, kemerdekaan seharusnya bukan hanya menjadi milik mereka yang memiliki jabatan, kekuasaan, ataupun akses terhadap pemerintahan.

“Kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang berkuasa dan memimpin. Kemerdekaan adalah hak seluruh rakyat. Karena itu, jangan sampai semangat kemerdekaan hanya terasa di panggung dan seremoni, tetapi belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat,” ujar Eka.

Ia menilai, momentum 17 Agustus seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi bersama.

Para pemimpin dan pejabat, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan ruang yang sama untuk menyampaikan aspirasi, berpartisipasi, dan menikmati hasil pembangunan.

Bagi Eka, semangat para pejuang kemerdekaan tidak boleh berhenti pada pengibaran bendera Merah Putih.

Nilai perjuangan tersebut harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keadilan, kebersamaan, kepedulian sosial, serta keberanian memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Merah Putih harus menjadi simbol persatuan, bukan simbol bahwa hanya sebagian orang yang berhak menentukan arah. Rakyat juga punya suara, rakyat juga punya hak untuk didengar,” tegasnya.

Di tengah semarak Gebyar Agustusan di Bumi Nene Mallomo, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan.

Kemerdekaan harus terus dijaga dan diwujudkan melalui kehidupan masyarakat yang lebih adil, terbuka, dan bermartabat.

Karena sejatinya, Indonesia merdeka bukan untuk segelintir orang, tetapi untuk seluruh rakyat Indonesia.

By Eka Ambarwati

Sosok Akademisi dan jiwa sosial serta jujur dalam bekerja itu adalah motto dalam hidupku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *